Teks Cerita Sejarah

 Teks Cerita Sejarah DKI Jakarta

    DKI Jakarta merupakan pusat negara Indonesia, DKI Jakarta dikenal sebagai kota maju menurut masyarakat di Indonesia. Karena disebut kota maju, banyak pelajar yang jauh jauh dari daerah datang ke Jakarta hanya untuk menuntut ilmu. Sehingga persaingan di Jakarta ini sangatlah sulit bukan hanya untuk mencari pekerjaan tetapi untuk mencari ilmu juga sulit. Nah sekian penjelasan singkat saya mengenai DKI Jakarta, sekarang saya akan menjelaskan mengenai sejarah peperangan yang pernah terjadi di Jakarta. Sekarang kita lanjut ke sejarah peperangan yang pernah terjadi di kota ini secara singkat ya.

    


    Nah sebelum Jakarta menjadi kota maju seperti sekarang, foto diatas merupakan foto Jakarta pada zaman dulu. Sebelum menjadi Jakarta nama kota ini sudah berganti nama sebanyak 13 kali dan yang terkahir adalah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 1999. Dan berikut cerita mengenai peperangan yang ada di Jakarta.

    Menjelang berakhirnya tahun 1945 situasi keamanan ibukota Jakarta (saat itu masih disebut Batavia) makin memburuk dengan terjadinya saling serang antara kelompok pro-kemerdekaan dan kelompok pro-Belanda. Ketua Komisi Nasional Jakarta, Mr. Mohammad Roem mendapat serangan fisik. Demikian pula, Perdana Menteri Syahrir dan Menteri Penerangan Mr. Amir Sjarifuddin juga nyaris dibunuh simpatisan Belanda (NICA).

    Keadaan di Jakarta pun menjadi sulit dikendalikan dan kacau. Tentara Belanda semakin merajalela. Ditambah lagi pendaratan pasukan marinir Belanda di Tanjung Priok pada 30 Desember 1945 menambah keadaan semakin mencekam.

    Karena itu pada tanggal 1 Januari 1946 Presiden Soekarno memberikan perintah rahasia kepada Balai Yasa Manggarai untuk segera menyiapkan rangkaian kereta api demi menyelamatkan para petinggi negara. Pada tanggal 3 Januari 1946 diputuskan bahwa Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta beserta beberapa menteri/staf dan keluarganya meninggalkan Jakarta dan pindah ke Yogyakarta, kemudian pada pukul 07.00 Presiden dan Rombongannya tiba di Stasiun Yogyakarta kemudian ibukota Republik Indonesia pun turut pindah ke Yogyakarta.

    Dari cerita di atas bisa diketahui perjuangan yang sangat besar telah dilakukan oleh tokoh - tokoh yang di atas. Nah, sebagai generasi penerus bangsa kita juga masih punya peperangan lho! Bukan peperangan yang memakan korban, melainkan peperangan terhadap kebodohan, kemalasan, dan lain - lain. Oleh karena itu semangat lah untuk menggapai apa yang kita impikan dan jangan lupa untuk mengharumkan nama bangsa.

Komentar